NO
|
UNDANG-UNDANG
|
TENTANG
|
LINK
|
1
|
32
Tahun 2009
|
Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
|
|
2
|
19
Tahun 2009
|
Pengesahan Stockholm Convention
On Persistent Organic Pollutants (Konvensi Stockholm Tentang Bahan
Pencemar Organik Yang Persisten)
|
|
3
|
10
Tahun 2009
|
Kepariwisataan
|
|
4
|
4
Tahun 2009
|
Pertambangan Mineral Dan Batubara
|
|
5
|
18
Tahun 2008
|
Pengelolaan Sampah
|
|
6
|
30
Tahun 2007
|
Energi
|
|
7
|
26
Tahun 2007
|
Penataan Ruang
|
|
8
|
21
Tahun 2004
|
Pengesahan Cartagena Protocol
On Biosafety To The Convention On Biological Diversity (Protokol
Cartagena Tentang Keamanan Hayati Atas Konvensi Tentang Keanekaragaman
Hayati)
|
|
9
|
19
Tahun 2004
|
Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang
|
|
10
|
18
Tahun 2004
|
Perkebunan
|
|
11
|
17
Tahun 2004
|
Pengesahan Kyoto Protocol To
The United Nations Framework Convention On Climate Change (Protokol Kyoto
Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Perubahan
Iklim)
|
|
12
|
7
Tahun 2004
|
Sumber Daya Air
|
|
13
|
29
Tahun 2000
|
Perlindungan Varietas Tanaman
|
|
14
|
41
Tahun 1999
|
Kehutanan
|
|
15
|
23
Tahun 1997
|
Pengelolaan Lingkungan Hidup
|
|
16
|
.
6 Tahun 1994
|
Pengesahan United Nations
Framework Convention On Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja
Perserikatan Bangsa Bangsa Mengenai Perubahan Iklim)
|
|
17
|
5
Tahun 1994
|
Pengesahan United Nations
Convention On Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsabangsa
Mengenai Keanekaragaman Hayati)
|
|
18
|
24
Tahun 1992
|
Penataan Ruang
|
|
19
|
16
Tahun 1992
|
Karantina Hewan, Ikan, Dan
Tumbuhan
|
|
20
|
12
Tahun 1992
|
Sistem Budidaya Tanaman
|
|
21
|
5
Tahun 1992
|
Benda Cagar Budaya
|
|
22
|
5
Tahun 1990
|
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
Dan Ekosistemnya
|
|
23
|
5
Tahun 1984
|
Perindustrian
|
|
24
|
4
Tahun 1982
|
Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup
|
|
25
|
11
Tahun 1974
|
Pengairan
|
Showing posts with label pencinta alam. Show all posts
Showing posts with label pencinta alam. Show all posts
Tuesday, 6 February 2018
UNDANG - UNDANG LINGKUNGAN HIDUP
By aji jaga19:50gunung, hutan, Indonesia, mapala, mapala karesidenan pati, materi, materi pencinta alam, pecinta alam, pencinta alam, penggiat alam, Undang UndangNo comments
Saturday, 9 September 2017
OPERASI SAR (SEARCH AND RESCUE)
By aji jaga23:37cinta tanah air, gunung, Indonesia, mapala, materi, materi pencinta alam, mendaki, mendaki gunung, pecinta alam, pencinta alam, pendakian, penggiat alam, UNISNUNo comments
Dalam SAR dikenal 3 tingkat keadaan darurat
yaitu :
1. INCERFA (Ucertainityphase/ fase tidak menentu/
fase meragukan)
Adalah suatu keadaan
emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai
kehidupan/ keselamatan orang-orang/ penumpang pesaawat karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi
kesulitan atau karena pesawat/ kapal itu tidak memberikan tentang informasi posko sebenarnya
(loss contack).
2. ALERFA (Alertphase/ fase mengkhawatirkan/
fase siaga)
Adalah suatu keadaan
emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai
kehidupan/ keselamatan/ penumpang pesawat karena
adanya informasi yang jelas bahwa karena pesawat/ kapal tidak memberikan informasi lanjutan
perkembangan posisi atau keadaanya.
3. DETRESFA ( Distress
Phase/ Fase darurat bahaya)
Adalah suatu keadaan
emergency ang ditujukan bila bantuan yang cepat telah dibutuhkan oleh pesawat/ kapal yang tertimpa
musibah karena telah terjadi informasi perkembangan posisi/keadaan setelah
prosedur Alert Phase dilalui.
B. Tahapan Operasi SAR
Untuk mempermudah operasi
SAR maka operasional dibagi dalam kelompk tahapan-tahapan, yaitu sebagai berikut:
1. Awareness Stage (
Tahap Kekhawatiran )
Kekhawatiran bahwa
suatu keadaan darurat mungkin akan muncul. Termasuk didalamnya penerimaan informasi keadaan
darurat dari seseorang.
2. Initial Action Stage (
TAhap Kesiagaan )
Aksi persiapan ini
diambil untuk menyiagakan fasilitas SAR dapat mendapatkan informasi yang lebih
jelas, termasuk didalamnya Mengevaluasi dan mengklasifikasikan informasi yang didapat, Menyiapakan fasilitas
SAR,
Pencarian awal dengan
komunikasi (Plemininary Communication Check), Perluasan pencarian degan komunikassi (Extender Communication
Check Excom).
Pada kasus yang gawat
dilaksanakan aksi secepatnya setelah tahapan tersebut bila keadaan
mengharuskan.
3. Planing Stage (Tahap
Perencanaan)
Yaitu suatu
pengembangan perencanaan yang efektif termask didalamnya Pertunjukan SMC (SAR
Mission Coordinator),
Perencanaan pencarian
dan dimana sepatutnya dilaksanakan. Menentukan posisi paling mungkin ( Most Propible Position/ MPP) dari korban yang keadaan darurat itu. Luas dari Search Area. Tipe pola pencarian. Perencanaan pencarian
yang dapat dipakai. Memilih pembebasan/ Delivery Point yang aman bagi korban
4. Operation Stage (Tahap
Operasi)
Yaitu tahap operasi termasuk didalamnya yaitu Fasilitas SAR bergerak
ke lokasi.
Melakukan pencarian. Menolong/ menyelamatakan orang. Memberikan perawatan gawat darurat pada orban yang membutuhkan
pertolongan.
Melakukan penggantian/ penjadwalan pasukan pelaksanan
di lokasi kejadian.
5. Mission Conclusion
Stage (Tahap Akhir Misi)
Tahap konklusi ini
adalah gerakan dari seluruh fasilitas SAR yang digunakan dari suatu titik pembebasan
yang aman ke lokasi semula darinya (Reguler Location) termasuk didalamnya Mengembalikan pasukan ke pangkalan (base camp)
pencarian.
Penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Membuat dokumentasi misi SAR. Mengembalikan SAR Unit ke instansi masing-masing.
Penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Membuat dokumentasi misi SAR. Mengembalikan SAR Unit ke instansi masing-masing.
Friday, 8 September 2017
PENYAKIT GUNUNG: HIPOKSIA
By aji jaga21:58cinta tanah air, gunung, Indonesia, kaderisasi, mapala, materi, mendaki, mendaki gunung, pecinta alam, pencinta alam, pendakian, penggiat alam, tanah air, UNISNU, wisataNo comments
Melakukan
pendakian gunung merupakan sebuah aktifitas yang harus di fikirkan dan
dipersiapakan secara matang baik untuk pemula maupun yang telah profesional,
karena pendakian merupakan salah satu kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. Banyak
resiko-resiko yang dapat menimpa kita ketika kita lengah dalam mempersiapkan aktifitas
pendakian.
Salah
satu resiko yang dapat terjadi ketika kita melakukan pendakian adalah terkena
Hipoksia, Hipoksia merupakan keadaan dimana seseorang mengalami kekurangan kadar
oksigen pada jaringan tubuh manusia. Ini bisa terjadi panda pendaki gunung karena
semakin tinggi gunung maka juga semakin menipis kadar oksigen yang ada. Hipoksia
dapat meneyebabkan seseorang tidak sadarkan diri, koma bahkan meninggal dunia. Hal-hal
yang mempengaruhi kondisi daya tahan tubuh seseorang terhadap hipoksia saat
pendakian sebagian dipengaruhi oleh kandungan hemoglobin dan sel darah merah
yang berfungsi untuk mengikat oksigen pada saat pernafasan untuk dialirkan
keseluruh tubuh. Selain itu seseorang yang dalam kesehariannya sering di
pegunungan atau bermukim disana biasanya akan lebih resisiten terserang
hipoksia, hal ini akibat adaptasi tubuh terhadap lingkungan minim oksigen
dengan mengimbanginya melalui produksi sel darah merah yang lebih banyak. Hipoksia
saat pendakian diklasifikasikan menjadi 2 macam:
1. Hipoksia
bersifat akut.
Hipoksia bersifat akut biasa
terjadi saat keracunan gas karbon monoksida pada udara yang diselimuti suatu
zat semisal saat melakukan pendakian gunung lalu menghirup udara yang
mengandung belerang, dimana secara mendadak udara bersih yang dihirup seseorang
menjadi gas yang mengandung racun lalu membuatnya tidak sadarkan diri atau pingsan.
2. Hipoksia
jenis fulminan
Hipoksia yang terjadi begitu singkat dimana saat
proses pernafasan mendadak paru menyedot udara tanpa disertai oksigen kemudian
kurun waktu 1 menit penderita terkapar pingsan.
Adapun
tanda-tanda gejala secara fisik dari hipoksia saat pendakian antara lain tubuh
lemas, jatung berdebar, sesak nafas, pusing, nafas cepat kedinginan dan
dangkal, serta pandangan kabur. Hipoksia saat pendakian memicu peningkatan
frekuensi pernapasan dengan memforsir kerja paru untuk bernafas dengan cepat
guna mencukupi kebutuhan tubuh akan gas oksigen. Hipokasia saat pendakian organ
jantung juga mesti bekerja ekstra untuk memompa gas oksigen yang terdapat dalam
darah yang jumlahnya sedikit tersebut untuk dipasok ke sel dan jaringan yang
terdapat di seluruh tubuh.
Sedang
dari segi perilaku hipoksia saat pendakian juga bisa dikenali lewat konsentrasi
dan cara berfikir yang susah untuk menentukan keputusan dengan tepat dan kacau.
Kondisi hipoksia yang didominasi perasaan emosi akan sangat menentukan
seseorang pendaki dalam penentuan suatu keputusan. Sehingga akibat oksigen yang
kurang untuk menutrisi otak dan mengakibatkan otak tidak mampu menjalankan
fungsinya dengan baik akan menyebabkan fenomena tersesat saat pendakian.
Apabila dalam pendakian
terkena Hipoksia maka anda bisa
melakukan beberapa hal berikut:
1. Menghirup
oksigen dari tabung oksigen yang kita bawa sebagai PPPK. Untuk mengantisipasi
dan sebagai pertolongan pertama saat terjadinya hipoksia saat pendakian persiapkan
tabung oksigen sebelum anda melakukan pendakian anda bisa memanfaatkan tabung
oksigen dengan ukuran mini dan fleksibel ditenteng kemanapun dan bisa didapat
dengan harga terjangkau di apotek terdekat.
2. Mengkondisikan
korban, Jika dengan tabung oksigen berukuran mini belum begitu memperlihatkan
perubahan cobalah untuk membuat pakaian korban lebih longgar dengan membuka
ikat pinggang, BH karna memungkinkan telalu kencang, serta kerah pada pakaian untuk
memeperlancar dan mempermudah proses pernafasan.
3. Mobilisasi
korban, Jika kondisi memungkinkan semisal pendaki sudah membaik segera
mobilisasi korban menuju kedataran yang lebih rendah, hal ini bertujuan untuk
mencegah kondisi hipoksia saat pendakian yang lebih parah yang berpotensi
memicu kerusakan pada organ tubuh akibat asupan oksigen menuju organ tubuh
berkurang, selain itu mobilisasi ke
dataran yang lebih rendah memungkinkan korban memperoleh suplay oksigen yang
lebih pada proses pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
4. Memberinya
asupan air, Air mineral bisa sedikit membantu pemulihan kondisi hipoksia saat
pendakian. Karena dalam air juga terkandung oksigen yang mampu memberikan
nutrisi oksigen dan memberi asupan tenaga pada penderita hipoksia.
5. Disepanjang
pendakian biasanya dibangun pos-pos disetiap level ketinggian tertentu,
manfaatkan fasilitas ini untuk beristirahat, makan dan minum secukupny atau
sekedar duduk. Karena hal ini selain membuang sedikit lelah juga untuk memeberi
kesempatan tubuh beradaptasi dengan lingkungan yang lebih tinggi yang pastinya
dengan kondisi udara yang berbeda dan kadar oksigen yang lebih menipis,
sehingga resiko hipoksia saat pendakian dapat sedikit terhindarkan.
6. Bagi
anda para pendaki pemula maupun professional terutama yang memiliki riwayat
anemia, anda harus senantiasa waspada dengan menjaga kondisi tubuh tetap vit
dan membawa obat pribadi sebagai antisipasi saat sakit dan tabung oksigen mini
untuk mengatasi hipoksia saat pendakian benar terjadi.
Thursday, 7 September 2017
CARA MENGATASI PENYAKIT GUNUNG: HIPOTERMIA
By aji jaga12:25gunung, Indonesia, mapala, materi, mendaki, mendaki gunung, pecinta alam, pencinta alam, pendakian, penggiat alam, UNISNUNo comments
Hipotermia termasuk kondisi yang membutuhkan penanganan medis darurat. Dimana suhu tubuh mengalami penurunan dengan drastis dibawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi tubuh. Saat temperatur tubuh berada jauh di bawah titik normal, sistem persarafan dan fungsi organ lain dalam tubuh akan mulai terganggu. Apabila tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan kegagalan sistem pernafasan dan sistem sirkulasi (jantung), dan akhirnya menyebabkan kematian. Situasi yang biasanya melanda pendaki gunung sehingga menyebabkan terkena hipotermia adalah Tidak mengenakan pakaian yang tepat saat mendaki gunung, Berada terlalu lama di tempat dingin, Mengenakan pakaian yang basah untuk waktu cukup lama, Suhu dingin yang terlalu rendah atau cuaca yang ekstrim.
A. JENIS
– JENIS HIPOTERMIA
Berdasarkan tingkat kecepatan oenurunan
suhu tubuh tubuh hipotermia dapat
dibedakan menjadi:
1. Hipotermia
akut atau imersi. Kondisi ini terjadi apabila seseorang kehilangan panas tubuh
secara mendadak dan sangat cepat, contohnya saat seseorang jatuh ke kolam yang
dingin.
2. Hipotermia
akibat kelelahan. Pada kondisi yang terlalu lemah, tubuh tidak akan mampu
menghasilkan panas, sehingga orang tersebut akan jatuh pada kondisi hipotermia.
3. Hipotermia
kronis. Jenis ini terjadi bila panas tubuh menghilang secara perlahan. Kondisi
ini umum terjadi pada lansia yang tinggal di ruangan dengan kehangatan yang
kurang.
B. GEJALA
HIPOTERMIA
Gejala hipotermia
sangat beragam dan terkadang sulit dikenali. Gejala yang muncul tergantung pada
seberapa rendah suhu tubuh pengidapnya. Gejala-gejala hipotermia umumnya berkembang
secara perlahan sehingga sering tidak disadari oleh pengidapnya. Orang yang
mengalami hipotermia ringan akan menunjukkan gejala yang meliputi menggigil
yang disertai rasa lelah, lemas, pusing, lapar, mual, kulit yang dingin atau
pucat, dan napas yang cepat. Jika suhu tubuh terus menurun tubuh pengidap
hipotermia biasanya tidak bisa memicu respons menggigil lagi. Ini
mengindikasikan tingkat keparahan hipotermia sudah memasuki tahap menengah
hingga parah. Pengidap serangan hipotermia tingkat menengah akan mengalami
gejala-gejala berupa:
1. Mengantuk
atau lemas.
2. Bicara
tidak jelas atau bergumam.
3. Linglung
dan bingung.
4. Kehilangan
akal sehat, misalnya membuka pakaian meski sedang kedinginan.
5. Sulit
bergerak dan koordinasi tubuh yang menurun.
6. Napas
yang pelan dan pendek.
7. Tingkat
kesadaran yang terus menurun.
Apabila
tidak segera ditangani, suhu tubuh akan makin menurun dan berpotensi memicu
hiportemia yang parah.
Hipotermia
yang parah ditandai dengan gejala-gejala berikut:
1. Pingsan.
2. Denyut
nadi yang lemah, tidak teratur, atau bahkan sama sekali tidak ada denyut nadi.
3. Pupil
mata yang melebar.
4. Napas
yang pendek atau sama sekali tidak bernapas.
C. CARA
MENCEGAH HIPOTERMIA
Berikut beberapa tips untuk mencegah
serangan hipotermia:
1. Ketika
melakukan pendakian bawalah peralatan dan perlengkapan sesuai dengan prosedure
pendakian
2. Hindari
kontak dengan air secara langsung. Jika hujan turun segera kenakan jas hujan,
walaupun hujan yang turun tidak terlalu lebat atau masih rintik-rintik. Hujan
yang rintik inilah yang seringkali menjadi penyebab lalainya pendaki yang
dengan gengsinya beresiko terserang hipotermia.
3. Jangan
pernah mendaki dengan menggunakan celana jeans! celana jeans akan sangat sulit
kering jika terkena basah baik oleh keringat maupun air hujan.
4. Jangan
berlama-lama mengenakan pakaian basah, pakaian basah adalah faktor utama
penyebab turunnya suhu tubuh. Segera ganti dengan pakaian yang kering.
5. Pastikan
tidur dalam kondisi yang hangat, minimal tidak kedinginan. Alasi alas tidur
dengan matras, gunakan sleeping bag, lapis tubuh dengan jaket tebal berbahan
polar didalamnya, gunakan kupluk, double kaos kaki, juga pakai sarung tangan
polar. Pastikan tidur anda nyaman dan aman dari hawa dingin.
D. CARA
MENGATASI HIPOTERMIA
Mengatasi penderita
hipotermia dibedakan berdasar kondisi penderita, penderita dalam keadaan
sadarkan diri atau dalam keadaan tidak sadarkan diri.
1. Penderitan
dalam keaadaan sadarkan diri.
a. Ganti
baju basah, dengan baju kering. Seperti disebutkan diatas, pakaian dalam
keadaan basah lah yang bisa menjadi faktor utama serangan hipotermia datang.
Ganti segera baju dan celana yang basah dengan pakaian yang kering nan hangat.
Ganti secara perlahan, harus hati-hati karena tubuh penderita sangat rentan
dengan goncangan.
b. Kasih
minuman hangat, Minuman yang hangat akan membantu tubuh untuk mengembalikan
suhu tubuh yang hilang. Contohnya coklat hangat atau teh hangat.
c. Kasih
makanan berkalori tinggi, dalam usaha menyeimbangkan suhu tubuhnya manusia
membutuhkan kalori yang tinggi, karena itu sangat disarankan penderita dibantu
untuk mengkonsumsi makanan yang berkalori tinggi seperti sereal, sup hangat,
coklat dan minuman manis lainnya.
d. Ajak
bergerak, Jika kondisi sudah membaik, penderita sudah mulai merasakan hangat di
tubuhnya. Selanjutnya ajak penderita untuk bergerak, ajaklah ia berolahraga
kecil agar tubuhnya maksimal dalam menghasilkan suhu tubuh. Tapi ingat jangan
sampai membuat penderita terlalu lelah dan mengeluarkan keringat, karena jika
berkeringat maka akan membuat pakaiannya basah dan bisa menimbulkan dingin
datang kembali.
e. Buat
api unnggun di sekitar, usaha terakhir anda bisa membuat api unggun di sekitar
guna menangkis udara dingin sekitar. Pastikan api unggun yang dibuat aman dan
tidak membahayakan sekitar tenda.
2. Penderita
dalam keadaan tidak sadarkan diri
a. Ganti
baju basah dengan perlahan, pertama ganti bajunya yang basah perlahan, ganti
dengan pakaian yang kering.
b. Masukkan
kedalam sleeping bag, jika sudah diganti dengan baju yang kering kemudian
masukkan penderita kedalam sleeping bag dan lapisi dengan lapisan yg hangat,
seperti jaket dan juga selimut, atau bila ada bungkus dulu dengan alumunium foil.
c. Apabila
masih belum terlihat ada perkembangannya buka bajunya peluk tubuhnya kulit
ketemu kulit, kulit ketemu kulit, dipercaya atau tidak ini akan membantu
mempercepat peningkatan suhu tubuh.
d. Upayakan
agar penderita segera sadarkan diri, tepuk-tepuk pipinya, ajak bicara, sebut
namanya terus hingga ia sadarkan diri.
e. Jika
sudah sadarkan diri lakukan penanganan seperti point diatas “penanganan saat
penderita dalam kondisi sadarkan diri”.













