WAPALHI UNISNU JEPARA

Wahana Pencinta Alam dan Lingkungan Hidup Universitas Islam Nahdlatul Ulama' Kabupaten Jepara

WAPALHI UNISNU JEPARA

Sebuah organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang kepencinta alaman, serta sosial kemanusiaan.

WAPALHI UNISNU JEPARA

Organisasi Mahasiswa yang mengajak berbuat nyata untuk membantu sesama

WAPALHI UNISNU JEPARA

Berusaha menumbuhkan rasa saling menghargai semua makhluk

WAPALHI UNISNU JEPARA

PARI CAKRA CIKARA GIRI

Showing posts with label pencinta alam. Show all posts
Showing posts with label pencinta alam. Show all posts

Tuesday, 6 February 2018

UNDANG - UNDANG LINGKUNGAN HIDUP

NO
UNDANG-UNDANG
TENTANG
LINK
1
32 Tahun 2009
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
2
19 Tahun 2009
Pengesahan Stockholm Convention On Persistent Organic Pollutants (Konvensi Stockholm Tentang Bahan Pencemar Organik Yang Persisten)
3
10 Tahun 2009
Kepariwisataan
4
4 Tahun 2009
Pertambangan Mineral Dan Batubara
5
18 Tahun 2008
Pengelolaan Sampah
6
30 Tahun 2007
Energi
7
26 Tahun 2007
Penataan Ruang
8
21 Tahun 2004
Pengesahan Cartagena Protocol On Biosafety To The Convention On Biological Diversity (Protokol Cartagena Tentang Keamanan Hayati Atas Konvensi Tentang Keanekaragaman Hayati)
9
19 Tahun 2004
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang
10
18 Tahun 2004
Perkebunan
11
17 Tahun 2004
Pengesahan Kyoto Protocol To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Protokol Kyoto Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Perubahan Iklim)
12
7 Tahun 2004
Sumber Daya Air
13
29 Tahun 2000
Perlindungan Varietas Tanaman
14
41 Tahun 1999
Kehutanan
15
23 Tahun 1997
Pengelolaan Lingkungan Hidup
16
. 6 Tahun 1994
Pengesahan United Nations Framework Convention On Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa Mengenai Perubahan Iklim)
17
5 Tahun 1994
Pengesahan United Nations Convention On Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsabangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati)
18
24 Tahun 1992
Penataan Ruang
19
16 Tahun 1992
Karantina Hewan, Ikan, Dan Tumbuhan
20
12 Tahun 1992
Sistem Budidaya Tanaman
21
5 Tahun 1992
Benda Cagar Budaya
22
5 Tahun 1990
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya
23
5 Tahun 1984
Perindustrian
24
4 Tahun 1982
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup
25
11 Tahun 1974
Pengairan

Saturday, 9 September 2017

OPERASI SAR (SEARCH AND RESCUE)



A.    Tingkat Keadaan Darurat.
Dalam SAR dikenal 3 tingkat keadaan darurat yaitu :
1.      INCERFA (Ucertainityphase/ fase tidak menentu/ fase meragukan)
Adalah suatu keadaan emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai kehidupan/ keselamatan orang-orang/ penumpang pesaawat karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi kesulitan atau karena pesawat/ kapal itu tidak memberikan tentang informasi posko sebenarnya (loss contack).

2.      ALERFA (Alertphase/ fase mengkhawatirkan/ fase siaga)
Adalah suatu keadaan emergency yang ditujukan dengan adanya kekhawatiran, kecemasan mengenai kehidupan/ keselamatan/ penumpang pesawat karena adanya informasi yang jelas bahwa karena pesawat/ kapal tidak memberikan informasi lanjutan perkembangan posisi atau keadaanya.
3.      DETRESFA ( Distress Phase/ Fase darurat bahaya)
Adalah suatu keadaan emergency ang ditujukan bila bantuan yang cepat telah dibutuhkan oleh pesawat/ kapal yang tertimpa musibah karena telah terjadi informasi perkembangan posisi/keadaan setelah prosedur Alert Phase dilalui.

B.     Tahapan Operasi SAR
Untuk mempermudah operasi SAR maka operasional dibagi dalam kelompk tahapan-tahapan, yaitu sebagai berikut:
1.      Awareness Stage ( Tahap Kekhawatiran )
Kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat mungkin akan muncul. Termasuk didalamnya penerimaan informasi keadaan darurat dari seseorang.

2.      Initial Action Stage ( TAhap Kesiagaan )
Aksi persiapan ini diambil untuk menyiagakan fasilitas SAR dapat mendapatkan informasi yang lebih jelas, termasuk didalamnya Mengevaluasi dan mengklasifikasikan informasi yang didapat, Menyiapakan fasilitas SAR, Pencarian awal dengan komunikasi (Plemininary Communication Check), Perluasan pencarian degan komunikassi (Extender Communication Check Excom). Pada kasus yang gawat dilaksanakan aksi secepatnya setelah tahapan tersebut bila keadaan mengharuskan.
3.      Planing Stage (Tahap Perencanaan)
Yaitu suatu pengembangan perencanaan yang efektif termask didalamnya Pertunjukan SMC (SAR Mission Coordinator), Perencanaan pencarian dan dimana sepatutnya dilaksanakan. Menentukan posisi paling mungkin ( Most Propible Position/ MPP) dari korban yang keadaan darurat itu. Luas dari Search Area. Tipe pola pencarian. Perencanaan pencarian yang dapat dipakai. Memilih pembebasan/ Delivery Point yang aman bagi korban
4.      Operation Stage (Tahap Operasi)
Yaitu tahap operasi termasuk didalamnya yaitu Fasilitas SAR bergerak ke lokasi. Melakukan pencarian. Menolong/ menyelamatakan orang. Memberikan perawatan gawat darurat pada orban yang membutuhkan pertolongan. Melakukan penggantian/ penjadwalan pasukan pelaksanan di lokasi kejadian.
5.      Mission Conclusion Stage (Tahap Akhir Misi)
Tahap konklusi ini adalah gerakan dari seluruh fasilitas SAR yang digunakan dari suatu titik pembebasan yang aman ke lokasi semula darinya (Reguler Location) termasuk didalamnya Mengembalikan pasukan ke pangkalan (base camp) pencarian.
Penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Membuat dokumentasi misi SAR. Mengembalikan SAR Unit ke instansi masing-masing.

Friday, 8 September 2017

PENYAKIT GUNUNG: HIPOKSIA

Melakukan pendakian gunung merupakan sebuah aktifitas yang harus di fikirkan dan dipersiapakan secara matang baik untuk pemula maupun yang telah profesional, karena pendakian merupakan salah satu kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. Banyak resiko-resiko yang dapat menimpa kita ketika kita lengah dalam mempersiapkan aktifitas pendakian.
Salah satu resiko yang dapat terjadi ketika kita melakukan pendakian adalah terkena Hipoksia, Hipoksia merupakan keadaan dimana seseorang mengalami kekurangan kadar oksigen pada jaringan tubuh manusia. Ini bisa terjadi panda pendaki gunung karena semakin tinggi gunung maka juga semakin menipis kadar oksigen yang ada. Hipoksia dapat meneyebabkan seseorang tidak sadarkan diri, koma bahkan meninggal dunia. Hal-hal yang mempengaruhi kondisi daya tahan tubuh seseorang terhadap hipoksia saat pendakian sebagian dipengaruhi oleh kandungan hemoglobin dan sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen pada saat pernafasan untuk dialirkan keseluruh tubuh. Selain itu seseorang yang dalam kesehariannya sering di pegunungan atau bermukim disana biasanya akan lebih resisiten terserang hipoksia, hal ini akibat adaptasi tubuh terhadap lingkungan minim oksigen dengan mengimbanginya melalui produksi sel darah merah yang lebih banyak. Hipoksia saat pendakian diklasifikasikan menjadi 2 macam:
1.      Hipoksia bersifat akut.
Hipoksia bersifat akut biasa terjadi saat keracunan gas karbon monoksida pada udara yang diselimuti suatu zat semisal saat melakukan pendakian gunung lalu menghirup udara yang mengandung belerang, dimana secara mendadak udara bersih yang dihirup seseorang menjadi gas yang mengandung racun lalu membuatnya tidak sadarkan diri atau pingsan.

2.      Hipoksia jenis fulminan
Hipoksia yang terjadi begitu singkat dimana saat proses pernafasan mendadak paru menyedot udara tanpa disertai oksigen kemudian kurun waktu 1 menit penderita terkapar pingsan.
Adapun tanda-tanda gejala secara fisik dari hipoksia saat pendakian antara lain tubuh lemas, jatung berdebar, sesak nafas, pusing, nafas cepat kedinginan dan dangkal, serta pandangan kabur. Hipoksia saat pendakian memicu peningkatan frekuensi pernapasan dengan memforsir kerja paru untuk bernafas dengan cepat guna mencukupi kebutuhan tubuh akan gas oksigen. Hipokasia saat pendakian organ jantung juga mesti bekerja ekstra untuk memompa gas oksigen yang terdapat dalam darah yang jumlahnya sedikit tersebut untuk dipasok ke sel dan jaringan yang terdapat di seluruh tubuh.
Sedang dari segi perilaku hipoksia saat pendakian juga bisa dikenali lewat konsentrasi dan cara berfikir yang susah untuk menentukan keputusan dengan tepat dan kacau. Kondisi hipoksia yang didominasi perasaan emosi akan sangat menentukan seseorang pendaki dalam penentuan suatu keputusan. Sehingga akibat oksigen yang kurang untuk menutrisi otak dan mengakibatkan otak tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik akan menyebabkan fenomena tersesat saat pendakian.
Apabila dalam pendakian terkena Hipoksia  maka anda bisa melakukan beberapa hal berikut:
1.      Menghirup oksigen dari tabung oksigen yang kita bawa sebagai PPPK. Untuk mengantisipasi dan sebagai pertolongan pertama saat terjadinya hipoksia saat pendakian persiapkan tabung oksigen sebelum anda melakukan pendakian anda bisa memanfaatkan tabung oksigen dengan ukuran mini dan fleksibel ditenteng kemanapun dan bisa didapat dengan harga terjangkau di apotek terdekat.
2.      Mengkondisikan korban, Jika dengan tabung oksigen berukuran mini belum begitu memperlihatkan perubahan cobalah untuk membuat pakaian korban lebih longgar dengan membuka ikat pinggang, BH karna memungkinkan telalu kencang, serta kerah pada pakaian untuk memeperlancar dan mempermudah proses pernafasan.
3.      Mobilisasi korban, Jika kondisi memungkinkan semisal pendaki sudah membaik segera mobilisasi korban menuju kedataran yang lebih rendah, hal ini bertujuan untuk mencegah kondisi hipoksia saat pendakian yang lebih parah yang berpotensi memicu kerusakan pada organ tubuh akibat asupan oksigen menuju organ tubuh berkurang,  selain itu mobilisasi ke dataran yang lebih rendah memungkinkan korban memperoleh suplay oksigen yang lebih pada proses pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
4.      Memberinya asupan air, Air mineral bisa sedikit membantu pemulihan kondisi hipoksia saat pendakian. Karena dalam air juga terkandung oksigen yang mampu memberikan nutrisi oksigen dan memberi asupan tenaga pada penderita hipoksia.
5.      Disepanjang pendakian biasanya dibangun pos-pos disetiap level ketinggian tertentu, manfaatkan fasilitas ini untuk beristirahat, makan dan minum secukupny atau sekedar duduk. Karena hal ini selain membuang sedikit lelah juga untuk memeberi kesempatan tubuh beradaptasi dengan lingkungan yang lebih tinggi yang pastinya dengan kondisi udara yang berbeda dan kadar oksigen yang lebih menipis, sehingga resiko hipoksia saat pendakian dapat sedikit terhindarkan.
6.      Bagi anda para pendaki pemula maupun professional terutama yang memiliki riwayat anemia, anda harus senantiasa waspada dengan menjaga kondisi tubuh tetap vit dan membawa obat pribadi sebagai antisipasi saat sakit dan tabung oksigen mini untuk mengatasi hipoksia saat pendakian benar terjadi.

Thursday, 7 September 2017

CARA MENGATASI PENYAKIT GUNUNG: HIPOTERMIA


Hipotermia termasuk kondisi yang membutuhkan penanganan medis darurat. Dimana suhu tubuh mengalami penurunan dengan drastis dibawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi tubuh. Saat temperatur tubuh berada jauh di bawah titik normal, sistem persarafan dan fungsi organ lain dalam tubuh akan mulai terganggu. Apabila tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan kegagalan sistem pernafasan dan sistem sirkulasi (jantung), dan akhirnya menyebabkan kematian. Situasi yang biasanya melanda pendaki gunung sehingga menyebabkan terkena hipotermia adalah Tidak mengenakan pakaian yang tepat saat mendaki gunung, Berada terlalu lama di tempat dingin, Mengenakan pakaian yang basah untuk waktu cukup lama, Suhu dingin yang terlalu rendah atau cuaca yang ekstrim.

A.    JENIS – JENIS HIPOTERMIA
Berdasarkan tingkat kecepatan oenurunan suhu tubuh  tubuh hipotermia dapat dibedakan menjadi:
1.      Hipotermia akut atau imersi. Kondisi ini terjadi apabila seseorang kehilangan panas tubuh secara mendadak dan sangat cepat, contohnya saat seseorang jatuh ke kolam yang dingin.
2.      Hipotermia akibat kelelahan. Pada kondisi yang terlalu lemah, tubuh tidak akan mampu menghasilkan panas, sehingga orang tersebut akan jatuh pada kondisi hipotermia.
3.      Hipotermia kronis. Jenis ini terjadi bila panas tubuh menghilang secara perlahan. Kondisi ini umum terjadi pada lansia yang tinggal di ruangan dengan kehangatan yang kurang.

B.     GEJALA HIPOTERMIA
Gejala hipotermia sangat beragam dan terkadang sulit dikenali. Gejala yang muncul tergantung pada seberapa rendah suhu tubuh pengidapnya. Gejala-gejala hipotermia umumnya berkembang secara perlahan sehingga sering tidak disadari oleh pengidapnya. Orang yang mengalami hipotermia ringan akan menunjukkan gejala yang meliputi menggigil yang disertai rasa lelah, lemas, pusing, lapar, mual, kulit yang dingin atau pucat, dan napas yang cepat. Jika suhu tubuh terus menurun tubuh pengidap hipotermia biasanya tidak bisa memicu respons menggigil lagi. Ini mengindikasikan tingkat keparahan hipotermia sudah memasuki tahap menengah hingga parah. Pengidap serangan hipotermia tingkat menengah akan mengalami gejala-gejala berupa:
1.      Mengantuk atau lemas.
2.      Bicara tidak jelas atau bergumam.
3.      Linglung dan bingung.
4.      Kehilangan akal sehat, misalnya membuka pakaian meski sedang kedinginan.
5.      Sulit bergerak dan koordinasi tubuh yang menurun.
6.      Napas yang pelan dan pendek.
7.      Tingkat kesadaran yang terus menurun.
Apabila tidak segera ditangani, suhu tubuh akan makin menurun dan berpotensi memicu hiportemia yang parah.
Hipotermia yang parah ditandai dengan gejala-gejala berikut:
1.      Pingsan.
2.      Denyut nadi yang lemah, tidak teratur, atau bahkan sama sekali tidak ada denyut nadi.
3.      Pupil mata yang melebar.
4.      Napas yang pendek atau sama sekali tidak bernapas.

C.     CARA MENCEGAH HIPOTERMIA
Berikut beberapa tips untuk mencegah serangan hipotermia:
1.      Ketika melakukan pendakian bawalah peralatan dan perlengkapan sesuai dengan prosedure pendakian
2.      Hindari kontak dengan air secara langsung. Jika hujan turun segera kenakan jas hujan, walaupun hujan yang turun tidak terlalu lebat atau masih rintik-rintik. Hujan yang rintik inilah yang seringkali menjadi penyebab lalainya pendaki yang dengan gengsinya beresiko terserang hipotermia.
3.      Jangan pernah mendaki dengan menggunakan celana jeans! celana jeans akan sangat sulit kering jika terkena basah baik oleh keringat maupun air hujan.
4.      Jangan berlama-lama mengenakan pakaian basah, pakaian basah adalah faktor utama penyebab turunnya suhu tubuh. Segera ganti dengan pakaian yang kering.
5.      Pastikan tidur dalam kondisi yang hangat, minimal tidak kedinginan. Alasi alas tidur dengan matras, gunakan sleeping bag, lapis tubuh dengan jaket tebal berbahan polar didalamnya, gunakan kupluk, double kaos kaki, juga pakai sarung tangan polar. Pastikan tidur anda nyaman dan aman dari hawa dingin.

D.    CARA MENGATASI HIPOTERMIA
Mengatasi penderita hipotermia dibedakan berdasar kondisi penderita, penderita dalam keadaan sadarkan diri atau dalam keadaan tidak sadarkan diri.
1.      Penderitan dalam keaadaan sadarkan diri.
a.       Ganti baju basah, dengan baju kering. Seperti disebutkan diatas, pakaian dalam keadaan basah lah yang bisa menjadi faktor utama serangan hipotermia datang. Ganti segera baju dan celana yang basah dengan pakaian yang kering nan hangat. Ganti secara perlahan, harus hati-hati karena tubuh penderita sangat rentan dengan goncangan.
b.      Kasih minuman hangat, Minuman yang hangat akan membantu tubuh untuk mengembalikan suhu tubuh yang hilang. Contohnya coklat hangat atau teh hangat.
c.       Kasih makanan berkalori tinggi, dalam usaha menyeimbangkan suhu tubuhnya manusia membutuhkan kalori yang tinggi, karena itu sangat disarankan penderita dibantu untuk mengkonsumsi makanan yang berkalori tinggi seperti sereal, sup hangat, coklat dan minuman manis lainnya.
d.      Ajak bergerak, Jika kondisi sudah membaik, penderita sudah mulai merasakan hangat di tubuhnya. Selanjutnya ajak penderita untuk bergerak, ajaklah ia berolahraga kecil agar tubuhnya maksimal dalam menghasilkan suhu tubuh. Tapi ingat jangan sampai membuat penderita terlalu lelah dan mengeluarkan keringat, karena jika berkeringat maka akan membuat pakaiannya basah dan bisa menimbulkan dingin datang kembali.
e.       Buat api unnggun di sekitar, usaha terakhir anda bisa membuat api unggun di sekitar guna menangkis udara dingin sekitar. Pastikan api unggun yang dibuat aman dan tidak membahayakan sekitar tenda.

2.      Penderita dalam keadaan tidak sadarkan diri
a.       Ganti baju basah dengan perlahan, pertama ganti bajunya yang basah perlahan, ganti dengan pakaian yang kering.
b.      Masukkan kedalam sleeping bag, jika sudah diganti dengan baju yang kering kemudian masukkan penderita kedalam sleeping bag dan lapisi dengan lapisan yg hangat, seperti jaket dan juga selimut, atau bila ada bungkus dulu dengan alumunium foil.
c.       Apabila masih belum terlihat ada perkembangannya buka bajunya peluk tubuhnya kulit ketemu kulit, kulit ketemu kulit, dipercaya atau tidak ini akan membantu mempercepat peningkatan suhu tubuh.
d.      Upayakan agar penderita segera sadarkan diri, tepuk-tepuk pipinya, ajak bicara, sebut namanya terus hingga ia sadarkan diri.
e.       Jika sudah sadarkan diri lakukan penanganan seperti point diatas “penanganan saat penderita dalam kondisi sadarkan diri”.